Rendah Diri ? Hati-Hati, itu Bisa Jadi Penyakit Lho ! – Iren Raras
Selasa; 21 February 2012 [Admin, SMA TARAKANITA GADING] - Artikel Umum
Rendah Diri ? Hati-Hati, itu Bisa Jadi Penyakit Lho ! – Iren Raras
Teman-teman, pernah enggak sih kita mengalami yang namanya takut kalau maju presentasi di depan umum ? Kita merasa kikuk dan canggung sebab diri kita pasti akan ditatap oleh banyak mata. Kita merasa enggak percaya diri akan itu. Kita takut bahwa bahan presentasi kita itu enggak menarik dan membuat orang lain boring. Kita merasa penyampaian materi itu tidak efektif sehingga pendengar jadi bingung dan menatap kita sebagai seorang yang freak. Atau bahkan kita merasa diri kita yang kurang menarik, sehingga membuat para pendengar malas untuk menatap kita. Persiapan yang telah kita siapkan sebelumnya, mendadak menjadi buyar dan kacau, hanya karena kita tidak percaya akan kemampuan kita. Kira tidak yakin akan kondisi fisik kita. Kita merasa itu semua tidak perfect. Kita merasa rendah diri ! Jangan dibiarkan lho teman-teman! Nanti bisa berakar menjadi sebuah penyakit yang kronis !
Sebenarnya, sikap rendah diri itu bermula dari konsep diri yang dijatuhkan oleh orang lain dan seseorang itu sendiri terhadap dirinya. Konsep diri itu apa sih ? Konsep diri itu adalah gagasan tentang diri sendiri. Konsep diri terdiri dari bagaimana kita melihat diri kita sendiri, Bagaimana kita merasa senang tentang diri kita sendiri, bagaimana pandangan orang lain yang mereka jatuhkan terhadap diri kita, dan bagaimana kita menginginkan diri sendiri menajadi manusia sebagaimana keinginan kita. Dengan adanya konsep terhadap diri kita, baik yang berasal dari diri sendiri maupun orang lain, kita dapat memberikan penilaian atas diri sendiri. Atau kita bisa menyebutnya sebagai Self-Evaluation. Dari Self-evaluation ini, seseorang dapat menentukan Self-ideal mereka, yaitu harapan akan diri sendiri untuk kedepannya.
Tapi teman-teman, konsep diri itu tidak selalu bernada positif lho ! Konsep diri juga bisa bernada negatif. Ini disebabkan oleh penilaian orang lain terhadap diri kita yang kurang baik. Sehingga kita nanti akan mencerna apa yang mereka katakan, dan men-judge diri kita negatif. Padahal belum tentu konsep diri yang mereka buat akan diri kita itu benar ! Bisa saja mereka men-judge kita secara negatif, padahal sebenarnya kita tidak begitu. Nah inilah yang menjadi akar pokok terjadinya sikap rendah diri teman-teman! Misalnya saja, Reynald adalah seorang siswa SMA. Dia adalah anak yang kurang pintar dalam hal akademik. Tetapi, ia sangat menyukai komputer. Oleh sebab itu, ia memilih untuk menghabiskan sebagian besar dari waktunya untuk berada di depan komputer. Ada-ada saja yang dilakukannya. Ia bisa mengutak-ngantik sistem yang ada di komputernya, menambahkan berbagai macam aplikasi yang menunjang kinerja komputernya, dan masih banyak hal-hal lain yang ia lakukan. Baginya, komputer bukan hanya sebagai perangkat, melainkan sebagai temannya. Ia sangat malas belajar pelajaran akademik. Ia lebih memilih belajar komputer saja. Otomatis, nilai-nilai mata pelajaran di sekolahnya sangat jelek. Tak jarang dia mendapat nilai 0. Teman-temannya men-judge Reynald sebagai anak yang bodoh. Reynald dianggap tidak bisa apa-apa. Mengerjakan soal latihan fisika, salah semua. Mengerjakan soal matematika, ia sering tidak paham. Mengerjakan soal kimia, sering salah memasukkan rumus kimia. Reynald di cap sebagai anak yang sangat bodoh oleh teman-temannya. Reynald menangkap konsep dirinya yang telah dibentuk oleh teman-temannya. Ia pun akhirnya mulai ikut-ikutan menilai dirinya sebagai pribadi yang bodoh dan tidak bisa apa-apa. Ia menjadi semakin malas belajar. Kini, ia pun menjadi malas belajar komputer. Ia berpikir, dia adalah anak yang bodoh. Tidak ada yang bisa dilakukannya. Buat apa belajar komputer juga ? Ia pasti tidak bisa. Ia anak yang bodoh. Pasti gagal ! Jadi, sekarang, setiap ada perlombaan komputer, ia tidak mau ikut. Ia tidak percaya diri. Ia yakin ia pasti akan kalah. Ia bodoh. Tidak akan pernah menang. Ia menganggap dirinya bodoh dan tidak memiliki harapan ke depannya.
Teman-teman lihat dari illustrasi di atas ? Konsep diri yang buruk, yang diciptakan oleh orang lain, bisa berpengaruh besar terhadap diri seseorang. Reynald memang kurang pintar dalam hal akademik. Tetapi dalam hal komputer ? Ia unggul. Tetapi karena ejekan dari teman-temannya terhadap dirinya, akhirnya ia men-judge dirinya negatif. Padahal, dalam mencapai keberhasilan di masa depannya, seseorang tak hanya ditentukan oleh prestasi akademik. Bisa juga karena talenta yang diasah sehingga membuat peluang pekerjaan. Kini, Reynald menjadi anak yang memiliki sikap rendah diri. Dan apabila terus menerus dibiarkan dan berlarut-larut dipupuk di dalam mindset pikiran, sikap rendah diri akan berubah menjadi penyakit rendah diri atau disebut inferiority complex.
Sekarang, bagaimana sih cara untuk mencegah agar virus inferiority complex ini tidak menyebar ? Hmmmmm…. Mudah saja.
- Belajar untuk memilah dan menyaring informasi atau kritik yang diberikan orang lain kepada kita. Apabila kita merasa kritik yang diberikan oleh orang lain itu bernada positif dan membangun, kita bisa senantiasa mendengarkannya dan mengubah diri kita secara perlahan kearah yang lebih baik. Dan apabila kritik yang diberikan oleh orang lain itu bernada destruktif atau merusak, atau kita merasa itu tidak sesuai dengan kepribadian kita saat ini, kita tidak perlu segan-segan untuk membuangnya dari pikiran kita. Untuk apa menyimpan sesuatu di pikiran kita yang sama sekali tidak ada gunanya, YA KAN ?
- Mengembangkan kemampuan yang kita miliki. Teman-teman, kemampuan itu tidak hanya dalam hal akademik saja. Seseorang yang sukses itu bukan berarti harus pintar secara akademik kan ? Albert Einstein aja dulu pernah enggak naik kelas, Cuma dia bisa berhasil juga kan ? Intinya, kita harus mengembangkan kemampuan di segi yang kita unggul. Misalnya teman-teman berbakat dalam bidang musik, teman-teman bisa mengasahnya dengan mengambil les piano, les vocal, les gitar. Sehingga, talenta yang diberikan oleh Tuhan itu tidak mubazir. SETUJU ?
- Menerima dan mengakui diri sebagaimana manusia bisa dengan segala kelebihan dan kekurangannya, dapat berhasil dan dapat gagal. Intinya, teman-teman itu harus tetap semangat dan tidak pantang menyerah. Apabila gagal, coba terus sampai bisa. Ingat Thomas Alfa Edison ? Ya! Di butuh lebih dari 50 kali percobaan untuk membuat sebuah bola lampu yang bisa kita gunakan terus hingga sekarang. Jadi, ingat, jangan mudah menyerah ya teman-teman! Setiap kemampuan, pasti ada jalan kok !
- Memandang diri sebagai manusia yang berharga dan pasti memiliki kelebihan disamping segala kekurangan yang kita miliki.
- Nilai Kejujuran Sudah Semakin Langka – Kevin Wijaya
- Pertemuan Pra Live In kelas X
- Ujian Praktek Dimulai Hari Ini.
- Menjiwai Spiritualitas Elisabeth Gruyters dalam Karya Layanan Pendidikan
- Spiritualitas Bunda Elisabeth Membentuk Pribadi Utuh
- Siapkan Batin di Masa Pra-paskah -Nia
- Fransisca Maureen Rebut Juara III Lomba Cerpen Majalah Kawanku.
- 15 Common Grammar Mistakes That (Almost) Everyone Makes
- Second 25 program for grade X
- Cinta yang Kembali di Hari Valentine – Iren Raras